Bertemu Dokter

0

Siang ini, ada yang sedikit mengganggu pikiran gue. Setelah hampir 24 tahun hidup, dan baru kali ini masa lalu itu terasa mengusik. Kalimat ‘what happened?’ terus menari-nari dipikiran gue. Ini bukan masalah cinta, bukan.

Gue udah cukup banyak ketemu orang-orang baru yang saat mereka tau nama panjang gue bakalan nanya: “Kok Bono? Bono itu artinya apa?” Lalu gue akan menjelaskan panjang lebar sejarah nama gue. Biasanya mereka bakalan merespon dengan: Wah keren ya. Ih lucu juga sejarahnya. Oh ya? Wow…

Hingga siang ini gue bertemu dengan dokter di klinik kantor gue. Setelah dia bertanya tempat lahir gue yang terasa aneh di kupingnya, lalu dia bertanya apakah nama Bono itu nama suku gue.

“Engga Dok. Itu ada sejarahnya Dok,”

“Suku kamu apa?”

“Parik Cancang Dok,”

“Parik Cancang? Kok saya gak pernah denger ya? Itu pecahannya suku apa?

Gue mulai curiga, ini dokter orang Minang juga pasti sampai tau kalau suku di Minang itu ada pecahan-pecahannya. Setelah menjelaskan tentang langkanya suku gue, dokter itu tiba-tiba bilang:

“Saya sukunya Jambak,” Oh pantes, ucap gue dalam hati.

Setelah bercerita tentang daerah dan kampus asal, dokternya kembali ke ‘Bono’.

“Jadi Bono itu apa?”

Gue kembali harus menjelaskan sejarah nama gue. Kira-kira penjelasan gue sama dengan penjelasan ke orang-orang lainnya.

Gue pernah nulis di sini http://rsbono.blogspot.co.id/2013/10/sejarah-nama-gue.html

And you know what? Ga kayak orang-orang sebelumnya, dokter ini ga puas dengan jawaban gue. Dia malah nanya ada apa? Bagian mananya yang salah? Seberapa banyak roti regal yang kamu makan?

Dia juga nanya ke siklus haid gue, apakah pas haid ada yang aneh dengan tubuh gue. Lalu kalau gue luka apa yang terjadi? Apakah badan gue kebentur bakalan langsung biru? Apakah gusi gue suka berdarah?

He made me anxious.

“Engga dok. Semua normal. Saya ga pernah masuk rumah sakit lagi sejak itu.”

“Hm tapi kamu ga pernah nanya ke orang tua kamu? Apakah lambungnya luka atau gimana?”

“Saya ga pernah nanya sampai situ Dok,”

Lalu dokternya manggut-manggut sambil menatap gue. Gue tatap balik dengan tampang penuh penasaran. Di otak gue timbul banyak pertanyaan dan pikiran aneh-aneh.

“Saya sarankan, kamu gali lagi informasinya sama orangtua kamu. Kamu perempuan, dan jadi perempuan itu ga gampang. Suatu hari kamu akan jadi ibu, dan untuk jadi ibu itu akan ada proses magis yang complicated yaitu hamil. Jangan sampai kamu taunya belakangan,…”

.

Dokternya ngomong dengan lembut. Gue ngerasain dia ngomong kayak dari hati ke hati. Jujur gue terharu.

Ia juga bercerita kalau ia pernah menemui kasus yang sama. Seorang bayi umur empat hari dikasih pisang sama orangtuanya. Lambung bayi itu pecah. Tak terselamatkan. Dan dengan kasus gue, ia penasaran apa yang terjadi pada gue. Dengan kehilangan banyak darah, berarti terjadi sesuatu dengan organ tubuh gue. Jika masalahnya tidak pada organ tubuh, maka ada kelainan pada darah gue. Dan sampai kini gue gak tau apa.

Sekarang, hal itu sangat mengganggu pikiran gue. Gue coba baca Al-quran, tapi pikiran gue tetap ke kalimat-kalimat dokter tadi. Akhirnya gue buka blog. Gimana bisa gue ga pernah berpikir sampai ke sana? Now i know, I have a homework! Gue harus cari tau semuanya biar tenang (atau malah bikin lebih panik). Gue harus MCU untuk tau jawabannya!

Sebuah tulisan dari lantai 48 sebuah gedung perkantoran, untuk menenangkan kegaduhan dalam pikiran.

Semakin hari, semakin gue sadar banyak hal yang gue gak tau.

You might also like
Comments
Memuat...