Bapak Berbaju Kuning

0
Foto diambil dari www.hipwee.com

Pagi ini, untuk kedua kalinya gue satu kereta sama bapak itu. Bapak-bapak yang membawa beban dibahunya. Sekilas terlihat seperti buntelan lidi yg dibungkus dengan karung plastik. Tapi bukan lidi dan gue gak tau apa. Dari gestur si bapak, jelas barang di bahu tersebut berat.

Kurang lebih bentuknya kerucut gini…

Di pagi sebelumnya, si bapak setelah turun kereta, ia menggunakan lift untuk naik ke lantai dua. Tergopoh-gopoh menuju pintu keluar dan menempelkan kartu di gate (tap out). Pagi itu, si bapak terlihat menuju loket. Entah untuk mengisi ulang kartu THB (Tiket Harian Berjaminan), atau mengembalikan THB tersebut. Gue gak tau.

Tadi pagi, gue kembali melihat si bapak. Ia memakai baju kuning dan bertopi abu-abu. Dari balik topi, rambutnya yang berwarna hitam putih itu masih terlihat. Di antara kerumunan pria-pria berdasi dan perempuan-perempuan ber-blash on di pipi, si bapak ikut mengantri untuk naik tangga eskalator.

Di Stasiun Palmerah ini, ada dua tangga eskalator, sebelah kanan untuk naik dan kiri untuk turun. Tapi eskalator untuk turun sering tidak berfungsi sehingga digunakan untuk naik dengan berjalan kaki oleh pengguna. Umumnya, orang-orang akan memilih menggunakan eskalator yang berfungsi dibanding harus menghabiskan tenaga untuk menaiki anak tangga eskalator. Maka setelah turun kereta orang-orang akan berdesakan mengantri ke sebalah kanan.

Begitu juga dengan bapak berbaju kuning itu tadi pagi. Ikut berdesakan ke sebelah kanan agar bisa naik tangga eskalator. Agar tidak harus berjalan menaiki anak tangga.

Tapi siapa yang peduli dengan keadaan si bapak, dengan beban berat di bahunya? Semua orang punya kepentingan sendiri, punya kesibukan sendiri di kantor, di tempat mereka harus melanjutkan aktivitas. Yang penting harus naik tangga eskalator. Harus cepat keluar dari stasiun agar urusan lainnya bisa dimulai.

Ketika berada di barisan tengah (antara eskalator kiri dan kanan) si bapak ‘terlempar’ ke barisan kiri. Orang-orang berdorongan. Ia harus berjalan kaki menaiki anak tangga. Ada marah yang terlihat dari gestur tubuhnya. Sambil berjalan, ia menepuk-nepuk tempat pegangan tangan tangga eskalator. Ada marah yang ingin ia luapkan. Ada ‘lelah’ yang ingin ia sampaikan. Tapi pada siapa?

Gue berdiri di sampingnya. Menggunakan eskalator sebalah kanan, tidak perlu membuang tenaga. Sampai di atas, mata gue terus mengikuti si bapak. Tangan kanannya memegang beban di bahu, tangan kiri meraih saku celana untuk mengambil kartu THB.

Setelah keluar, ia menemui temannya di loket yang juga membawa barang berbentuk sama. Mereka kemudian berjalan keluar stasiun dengan masing-masing beban di bahu. Tergopoh, dan terlihat gemetar saat berjalan. Terlebih si bapak berbaju kuning. Mungkin karena ia sudah berdiri lama di kereta, lalu masih harus dilanjutkan berjalan.

Di JPO (jembatan penyebrangan orang), si bapak berbaju kuning mendesas ke temannya. “Ini karna orang kantor pada…”

Sayangnya gue tidak bisa mendengar jelas apa yang ia katakan. Tapi gue menebak, ia kesal dengan keadaan kereta dan eskalator stasiun.

Semoga Allah mencukupkan rezekinya.

You might also like
Comments
Memuat...