Sebuah Catatan: VICO dan Setelahnya

0

Terimakasih VICO Indonesia, untuk empat bulan yang penuh hura-hura.

Gue beruntung, pengalaman pertama masuk ke kantor yang mevvah, orang-orang yang asik, suasana kerja yang santai, penuh kehangatan.

Gue merindukan pagi yang dapat berkali-kali ucapan ‘selamat pagi’. Entah dari satpam, OB, dan mba-mas di kantor. (Jomblo detected hahaha). Gue rindu mesin kopi Nescafe di Lounge, dan menikmati pemandangan seonggok ibukota sambil menyeruput kopi dari lantai 48.

Gue rindu merengek ke Mba Indri dan Mba Hanny. Gue rindu ocehan dan ketawa mereka. Gue rindu bergosip sama Kak Cut, Mia, Denis, dan sesekali Ikhwan ikut bagian. Gue rindu candaan mas-mas BA, sapaan ‘Hai Fik’-nya Pak Eckman. Gue rindu dengerin candaan krik-krik nya Pak Rohmat dan Pak Tonny. Gue rindu senyuman Pak Riduan yang menepuk lengan gue sambil bertanya, ‘gimana fika?’. Gue merindukan semuanya, sampai hal-hal sepele seperti mengetuk pintu toilet sebelum masuk. Iya. Gue rindu setiap detik di VICO (lebay).

Kerja di VICO artinya terhindar dari beberapa macam stress. Sederhananya terhindar dari stress di jalan. Gue inget hari kedua masuk kantor, Mas Ingka-SPV gue, ngejelasin sedikit tentang VICO dan Migas.

“Tau gak kenapa kita masuk jam 7 pulang jam 4? Biar pagi jalanan belom rame, pas pulang juga masih sepi. Itu salah satu bentuk dari safety first. Jadi kita gak stress di jalan.”

Kini, setelah gak di VICO gue merasakan yang namanya jalanan penuh pagi-pagi dan sore hari. (Oh wait, ini gue gak lagi ngeluh loh ya)

Gue gak tau mau nulis apa. Kalau gue tulis semua yang pernah gue lalui di VICO, akan terkesan norak dan terlalu meninggi-ninggikan. (Walaupun itulah kenyataannya). Di VICO itu aman dan nyaman banget. Orang-orangnya, kerjaannya, kantornya, semuanya.

Tapi, Pak Tumbur–orang nomor satu di VICO, pernah bilang di sebuah acara; jangan sentimen dengan perusahaan. “Anda harus profesional. Bagi company, begitu kontrak anda habis, company tidak punya tanggung jawab lagi pada karyawan. Mau anda sayang sama perusahaan, punya banyak kenangan, terserah anda. Perusahaan bahkan tidak peduli.”

Kalimat bapaknya menohok banget dan gue suka kalimat itu. Gue pernah baca ‘Love your job, not your company’. Dan gue akhirnya paham maksud kalimat tersebut.

Memang, tidak semua orang boleh berlama-lama menikmati rasa nyaman. Ada yang harus kembali berjuang melanjutkan hidup dengan menempuh jalan penuh tantangan.

Dan gue sudah berdamai dengan diri sendiri, bahwa gue belum berhak dengan semua rasa nyaman tersebut. Gue harus kembali belajar dan berjuang di tempat baru. Menyiapkan diri untuk bisa survive di masa depan. Mengisi lobang-lobang di otak yang kosong mengenai bidang yang harusnya gue kuasai.

Gue harus bekerja keras, merasakan pulang tengah malam, dikejar deadline, dan gue janji gak akan mengeluh (lagi). Gue yakin Tuhan ngasih kerjaan baru ini karna ini yang terbaik buat gue. Karena menurutNya gue akan sanggup menyelesaikan tantangan baru ini. Wish me luck!

Btw, jalan hidup memang gak bisa ditebak. Gue gak pernah kepikiran masuk dunia Migas. Dunia yang agak aneh dan asing bagi gue. Dulu gue wanti-wanti gak mau masuk KAP karna Akuntansi gue jelek. Dan lihatlah sekarang, setelah ke Migas gue ke KAP. Wkwk

Di kantor baru ini, setiap ngerasa berat, gue kembali baca tulisan gue berjudul ‘Sebuah Janji’. Sebuah tulisan yang gue heran kenapa bisa sampai nulis gitu. Sambil ketawa-ketawa geli, gue meyakinkan diri. Tuhan tidak pernah salah dengan keputusannya, hanya tentang sejauh mana gue menyertakanNya di setiap tetes peluh, masihkah mengeluh? (wkwk ini masih proses meneguhkan hati emang).

Baiklah, sebelum tulisan ini melebar kemana-mana, gue balik ke intinya.

Gue ingin bilang (lagi), terimakasih VICO Indonesia. Terkhusus untuk Business Support Department dan Finance Division secara keseluruhan. I am proud to be part of history (Eaaaa). Untuk kawan-kawan AKMV, good luck for us. See you somewhere!

Dan untuk gue, come on! Break the limits! Hahaha

And ya. Sedih gak ada foto sama Mba Indri 🙁

You might also like
Comments
Memuat...