Payah!

0

Kadang kau bersyukur, kadang kau kembali mempertanyakan.

Sering kali kau pulang dengan semangat penuh gairah,
tapi kini, lagi-lagi kau mempertanyakan
Tentang hidupmu yang seolah tak terarah, ataukah salah arah?
Kau memendam amarah, membungkusnya dalam lelah, berusaha tersenyum payah.
Ah, kau lemah!

Kau berubah.
Katamu, ingin menjadi lebih baik. Oh ya?
Biar apa?!

Aku membencimu yang kini lihai memendam amarah.
Ah, ataukah memang tak ada lagi marah dalam jiwamu?
Sebegitu hampa kah hidup di kota, sayang?
Oh, atau seberapa panjangkah daftar keinginan yang harus kau ceklis satu-persatu?
Hingga kau membunuh jiwamu dalam kereta,
berkata kau baik-baik saja,
saat tubuh kecilmu didorong, terjepit, bernapas kau tak bisa.

“Ah, bukankah mereka, mereka, dan mereka juga mengalami hal yang sama?!” ujarmu sambil menatap lautan manusia di stasiun.

Hei, apa yang terjadi, sayang?! Ku suruh kau dorong dan sikut orang-orang yang tak mau beri jalan keluar pintu kereta di Sudirman,

atau orang-orang yang tak mau bersabar saat mengantri naik eskalator di stasiun Tanah Abang, tapi kau bilang jangan.
“Satu dorongan kecil bisa saja menjadi maut bagi mereka.”  Atau, “mungkin mereka punya kepentingan mendesak, mungkin mereka lupa,” dan puluhan ‘mungkin’ lainnya yang kau lontarkan. 

Aku benci kau yang tak lagi meluapkan kekecewaan, menulis kesedihan, dan selalu berupaya bahagia untuk menerima. Atas dasar apa?!

Kenapa kau kini hanya menangis? Tersungkur dalam sujud, mengiba dalam doa?! Segitu putus asa-kah kau dengan diri sendiri? Atau kau kehilangan percaya diri?

Aku benci kau yang selalu berucap “Allah pasti berikan yang terbaik.” Benarkah? Lalu mengapa kau masih sering menangis? Tersungkur dan komat-kamit di atas sajadah!

Aku ingin kembali bercengkrama denganmu. Menertawakan takdir, memarahi hidup, menikmati kesedihan, dan membual seribu alasan untuk melabeli takdir tak pernah adil.

Malam ini, saat kau menatap langit dari kendaraan roda dua, kepalamu sesak oleh tanya, dan air lahir di matamu, aku berharap kau menuliskannya dengan penuh amarah.

Tapi apa yang kau tulis?

 Sudahlah, kau payah!

You might also like
Comments
Memuat...