Pak Dadang

0

Pak Dadang namanya. Jangan harap gue akan menulis nama lengkap, umur, sudah berapa tahun melaut, berapa buah kapal yang ia miliki, sejak kapan ia menjadi nahkoda, berapa orang istrinya, pernahkah kapalnya tenggelam, dan kemana ia paling jauh menunggangi kapal, dan informasi-informasi lainnya. Karna gue juga gak tau.

“Nantik kalau jadi ke Singapura saya beli pelampung ya! Nantik dibelik yang warna pink biar cantik. Sekarang pakek dulu apa yang ada,” tuturnya saat kami bertanya masih ada pelampung atau tidak. Kami ber-duabelas-orang, siap untuk melompat ke laut di sekitar Pulau Maratua.

***

Pelabuhan Tanjung Batu, masih diselimuti kabut asap pagi itu

Tidak ada kapal lain yang melintas. Hanya kapal cepat Pak Dadang yang tanpa malu-malu membelah Laut Celebas pagi itu. Tujuan kami adalah pulau Maratua dan Pulau Kakaban.

Kami menempuh dua jam perjalanan darat dari hotel di Berau untuk sampai di Pelabuhan Tanjung Batu. Jalanan sepi, pohon kiri-kanan. Tak bisa disebut jalanan di tengah hutan belantara, karena hutan Kalimantan sudah disulap menjadi surga sawit, toh? Sebuah komoditi yang dianggap mengakibatkan kerusakan lingkungan, deforestasi, dan gangguan terhadap keanekaragaman hayati, namun menjadi tempat bergantung hidup bagi ratusan ribu jiwa di Indonesia.

Dari pelabuhan, kami menuju Pulau Derawan dengan Kapal Cepat Pak Dadang. Hanya butuh waktu 30 menit saja bagi Pak Dadang untuk membawa kami ke Pulau Derawan. 

Di Pulau Derawan, kami hanya singgah sebentar. Meminjam peralatan snorkling dan mengabadikan beberapa gambar. 

Singgah di sebuah resrot di Pulau Derawan
Hehe

Naluri seorang pelaut, kami meninggalkan kapal dalam keadaan berantakan. Tas dimana-mana, makanan ditaruh sembarangan. Kembali dari resort, kapal sudah rapih. Semua barang-barang kami disusun di bawah tempat duduk oleh Pak Dadang. Sehingga kami bisa nyaman dan kaki leluasa bergerak.

Kami melanjutkan perjalanan. Kapal Cepat Pak Dadang mulai menjauh dari Pulau Derawan. Tiga puluh menit perjalanan, kami hampir sempurna di tengah-tengah laut. Tidak lagi nampak pulau ataupun daratan. Sesekali kami bersorak karena ombak cukup besar dan membuat kapal terhantam lebih keras.

Membelah ombak

Cuaca begitu mendukung perjalanan kami. Di atas kapal melawan ombak, air dan langit biru ditambah oleh tetesan awan putih. Maka, nikamat Tuhan mu yang mana lagikah yang engkau dustakan? Sambil melamun di kapal, menyaksikan laut luas dan membayangkan apa yang ada di bawah laut sana. Haru bercampur takut, to be honest.

Di atas kapal, air dan langit biru, ditambah percikan awan. Adakah yang lebih seksi?

Setelah tiga per empat jarak kami tempuh, kapal tiba-tiba berhenti. Ini kedua kalinya. Sebelumnya, kapal berhenti karena bensin habis. Kali ini karena mesin tak bisa hidup. Di tengah laut. Ingin bilang aku takut, tapi ternyata tidak. Dua-tiga kali Pak Dadang bolak-balik dari kursi kemudi ke mesin yang letaknya di belakang. Mungkin ada yang nyangkut di mesin. Tapi tidak ada. Lalu kenapa? Haruskah kami mendayung ke tepian?

“Betul kipasnya. Tadi sudah tak suruh ganti (sama anak buah di pelabuhan), tapi tak didengarkan he,” ocehnya dengan logat yang khas setelah membuka kipas mesin.

Sembari Pak Dadang menyelesaikan pekerjaannya, kami melihat sampah Pop Mie yang tadi kami makan. Setelah saling menuduh satu sama lain, Pak Dadang berkata “Tak apa. Sebelah sana itu Filipina. Biar aja mereka yang dapat sampahnya.” Kami pun tertawa. Pak Dadang-lah tersangkanya.

Kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Kapal berhenti di tengah. Ada yang langsung lompat, juga ada yang berteriak “aku takut aku takuuttt” tapi tetap lompat dengan seksi (you know who :P). Karena tidak bisa berenang, dan mengaku takut laut, gue tidak selincah yang lain. Tapi tetap bisa menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang, ikan-ikan, dan tumbuhan bawah laut.

Ketika menyelam gue sempat kaget melihat sosok lelaki berkulit gelap yang dengan lincah menyelam ke dasar laut. Siapa lagi kalau bukan Pak Dadang. Tubuhnya begitu lincah meliuk-liuk seperti ikan kakap.

“He, jangan di sini saja toh. Di sana lebih bagus” ujarnya karena melihat kami yang mayoritas takut untuk menyelam lebih dalam. Apalagi gue, yang penting nyebur.

Aya.

 Setelah puas snorkeling, kami mampir ke pantai di Maratua untuk mengisi perut. Sebenarnya tidak ada di rundown karena sejak awal Mas Haris sudah tegaskan untuk tidak makan siang karena akan menghabiskan waktu. Dan kami sudah membawa perbekalan roti yang cukup banyak. Tapi Pak Dadang sudah menepi. Lalu mengajak kami untuk makan di kedai miliknya. Pak Dadang tinggal di Pulau Maratua ini.

Sama seperti perkampungan lainnya, di kampung ini terdapat banyak rumah. Mayoritas rumahnya berbentuk panggung. Berlantai keramik dan berdinding  kayu. Kami sempat mempertanyakan bagaimana bisa ada mobil dan motor ketika letak pulaunya begitu jauh. Tapi toh di pulau-pulau lainnya juga kehidupan berjalan seperti di daratan biasanya (Mentawai dan Kepulauan Seribu misalnya).

Singgah makan siang
Wefie

Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menunggu makanan dan solat, akhirnya kami lanjut ke destinasi berikutnya.  “Nanti di Palung itu bagus banget. Banyak ikannya. Ada nemo juga. Penyu juga ada,” Mas Hariz sudah berkali-kali mengulang kalimat yang sama sejak di Berau.

Butuh waktu lebih dari sekitar setengah jam dari pantai untuk sampai di lokasi snorkeling, dekat laut yang ada palungnya. Sudah jam tiga lewat. Air sudah pasang dan ombak sudah besar. Yang tidak berani turun tetap di kapal. Sedang gue, takut-takut cik ayam. Takut tapi pengen. Akhirnya gue lompat dan mengingatkan seorang teman sebelumnya; “Aku mau turun tapi jangan tinggalin.” Berenang sedikit menjauhi kapal, gue kemudian menyelam. Dan benar, di sini lebih indah lagi dibanding destinasi pertama. Ikan dan terumbu karangnya lebih banyak. Gue juga melihat nemo.

Tak lama setelah takjub dengan keindahannya, gue buru-buru mengambangkan diri. Shit! Tak jauh dari tempat gue, airnya sangat gelap. Itu adalah palung yang dimaksud Mas Haris. Badan gue lemas seketika. Sialnya, masih harus mengejar kapal yang terus bergerak karena terbawa ombak. Begitu juga dengan Ria, ia juga langsung panik ketika melihat gelap palung. Akhirnya kami dituntun Habib untuk sampai di kapal. Hah! Padahal masih ingin menikmati keindahannya. Sedangkan Ratih, Aya, Kak Fitri, Habib dan Mas Hariz masih leluasa main di dalam laut bahkan tanpa pelampung. Mas Hariz bahkan melihat penyu.

Wefie di Pulau Kakaban

Destinasi selanjutnya,  Pulau Kakaban untuk melihat ubur-ubur tak jauh dari dekat palung. Mungkin sekitar 10 menit. Kapal menepi. Ya ampun, airnya lebih cantik lagi. Tapi Ubur-ubur ada di Danau Kakaban yang dipisahkan oleh daratan dari laut ini (Gue bingung nyebutnya gimana). Kami menaiki anak-anak tangga. Ngos-ngosan juga. And well, huh! Gue bingung memilih kata untuk menggambarkan betapa indahnya pemandangan yang tersaji di danau ini. Sunyi, damai. Di danau ini dilarang menggunan pin karena bisa membunuh ubur-ubur.

Kami kemudian mengabadikan beberapa gambar terlabih dahulu sebelum kembali nyebur ke air. Di Danau Kakaban, tak ada ombak.  Gue lebih merasa aman untuk menyelam lama-lama. Melihat ubur-ubur (yang biasanya cuma dilihat di film Spongebob).

Foto di Danau Kakaban
Hehe
Lagi

Setelah puas melihat ubur-ubur, kami bergerak pulang. Lagi-lagi, Pak Dadang sudah merapikan kapal selagi kami tinggal. Sebelumnya kami meletakkan pin, pelampung, dan alat snorkeling sembarangan.

“Pak kita ke pasir berbisik sebentar boleh ya Pak? Mau sunset-an sama mau foto. Keburu ga Pak?” Mas Haris memastikan. Sudah senja, pukul lima.


“Ya boleh. Kalau keburu kita ke sana.” Begitulah Pak Dadang. Selalu meng-iya-kan kemana kami minta, tanpa ada gelagat tak suka.

Kami melanjutkan perjalanan. Dari tempat duduk, gue tetap bisa menikmati sunset. Di atas kapal cepat, di tengah laut, bergerak melawan ombak. Matahari pelan-pelan ditelan awan. Ya Tuhan, terima kasih untuk segala kesempatan :’))

Hari sudah gelap. Pulau pasir putih sudah ‘hilang’ dicuri air pasang. Kami harus langsung pulang. Terima kasih Pak Dadang.

Bonus
You might also like
Comments
Memuat...