Menjadi Dewasa

0

Dulu waktu masih kecil gue berpikir, ketika melihat orangtua seseorang yang sudah dewasa berpulang, maka tak apa. Toh mereka sudah dewasa. Sudah bisa hidup mandiri, sudah bisa cari uang sendiri. Tak ada orangtua pun tak apa. Beda dengan adik mereka yang masih kecil, mereka masih butuh orangtua. Untuk ngasih uang jajan, belikan baju raya, ngurusin keperluan sekolah, jemput rapor, dan segala kebutuhan lainnya.

Tapi kini, ketika gue sudah dewasa, sudah bisa (sedikit) mandiri, sudah bisa cari uang sendiri, maka keadaannya berbanding terbalik dengan apa yang dulu gue pikirkan. Semakin dewasa gue semakin gue butuh orangtua.
Merasa butuh untuk membahagiakan mereka. Ingin selalu bisa memenuhi kebutuhan mereka. (Iya, belum sanggup memenuhi keinginan mereka). Menjaga kata-kata agar mereka tidak terluka. Mengencangkan doa agar mereka selalu diberikan kesehatan, kedamaian hati dan pikiran, dipanjangkan umurnya, agar kami selalu bisa membahagiakan mereka.
Kini gue sadar makna doa tiap kata, yang dulu (mungkin) hanya berupa templete saja.  

Semakin dewasa, semakin gue butuh untuk tau keadaan mereka. Menanyakan hal-hal spele seperti mama masak apa. Lipstick mama masih ada apa engga. Hari ini ngapain aja. Obat papa tinggal berapa. Lagi nonton apa. Lalu sesekali bersenda gurau membahas politik. Mendengarkan ocehan bapak tentang rezim ini, sambil tertawa membela rezim yang sedang berkuasa.

Di waktu yang lalu, gue banyak salah sama mereka. Lalai dalam memerhatikan mereka. Abai dengan keadaan mereka. Kini saat telah jauh baru terasa. Semoga Allah selalu lindungi mereka.

Kini gue sadar satu hal, bahwa salah satu sumber kebahagiaan adalah dengan membahagiakan orangtua :’)
Bahkan untuk se-simple percakapan malam ini:
“Ka, bulan lalu siapa yang belikan paket mm?”
“Uni A maa”
“Paket mm udah mau abis, giliran Uni B berati ya”

Iya, waktu sudah berlalu. Bukan lagi mama minta pulsa, tapi mm minta paket internet 😀

You might also like
Comments
Memuat...