Marah

0

Awalnya, gue membuat ‘Hujan’ sebagai judul tulisan ini. Tapi ternyata gue sudah pernah menulis judul serupa sebelumnya.

A memory. Gue berpikir cukup lama sebelum menulis ini. Memori apa yang paling lekat dalam ingatan gue. Cukup banyak. Memori bahagia ataupun luka.

Tapi hujan, adalah saat dimana ingatan itu muncul. Meski tidak selalu, tapi sering.

Gue selalu takut dan cemas jika hujan turun. Apalagi kalau disertai angin kencang. Gue bahkan masih ingat bagaimana menakutkannya bunyi atap seng yang melambai-lambai diterjang hujan dan badai.

Gue selalu mengumpat jika turun hujan. Karena itu artinya akan menambah perkerjaan gue. Memindahkan barang-barang agar tidak terkena rembesan hujan. Mengambil ember-ember untuk menampung air karena atap bocor. Memasang plastik (pelapis tenda saat camping) sebagai pengganti atap dan mengikatkannya ke tiang-tiang lantai dua yang sudah keropos. Dan, mencari kain bekas untuk melap lantai yang tetap tergenang air meski upaya-upaya di atas sudah dilakukan.

Gue selalu kesal jika hujan lebat. Karena artinya gue harus menghalau sampah agar tidak menyumbat saluran air yang deras datang dari atas. Gue jengkel harus menyapu aspal depan rumah, karena setelah hujan sampah akan berserakan di jalan. Gue kesal karena orang-orang tidak membuang sampah pada tempatnya. Dan gue geram, karena saluran air (banda) tidak kunjung dibenahi meski sudah berkali-kali ganti wali nagari.

Gue cemas jika turun hujan tengah malam. Apakah kami akan mati di bawah selimut karena tertimpa rumah. Atau bangun pagi tanpa atap yang terbang dibawa angin.

Tanpa sadar, setiap turun hujan ingatan itu acap kali terlintas di benak gue. Gue ingat, saat kuliah pernah kebangun tengah malam di kosan karena mendengar hujan deras. Langsung panik sebelum menyadari kalau di kosan atap tidak bocor. Gue kemudian langsung menulis ini.

Meski kini gue menyadari bahwa mungkin hal itu tidak hanya terjadi pada gue. Di Jakarta, orang-orang juga cemas jika hujan deras. Karena artinya mereka harus bersiap jika tanggul jebol dan banjir menelan seluruh rumah mereka.

Dulu gue marah dengan keadaan. Kini, banjir di Jakarta menyadarkan bahwa penderitaan gue dulu belum seberapa.

You might also like
Comments
Memuat...