
Labuhan Amuk
Pukul 8.51 pagi.
“Fik, kumpulnya di kosanmu ya. Kamu ada helm gak?”
****
Pagi itu gue dan tiga teman lainnya bertolak ke Pantai Labuhan Amuk, Karangasem, sekitar 41 km dari Renon, Denpasar. Cuaca amat cerah, awan putih bersih, udara segar dari pohon yang dihembus angin sepoi di kiri-kanan jalan. Jalanan cukup ramai, Bali sudah mulai normal pasca pandemi. Jika diingat ke beberapa bulan belakang, saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, Bali amat sepi. Di daerah wisata populer seperti kota mati.
Dengan kecepatan di atas 60km/jam, kami melesat sat-set hingga tiba di awan gelap. Berhenti sejenak, kami melanjutkan perjalanan di bawah hujan. Sebentar saja, langit biru kemudian kembali menemani kami (kamu bingung kan maksudnya?). Perjalanan menuju Labuhan Amuk ini melewati Pantai Gowa dan Pantai Anak Segara di kanan jalan, itu nama-nama sejauh yang gue ingat. Melihat ombak di kedua pantai tersebut, gue menebak di tempat yang gue tuju ini ombaknya akan sama besarnya. Pikiran akan batal snorkeling berkecamuk di kepala gue.
Setelah menempuh 1,5 jam perjalanan, kami sampai di tempat yang dituju. Salah satu teman gue yang minggu lalunya juga kesini membelalakkan mata saat turun dari motor. “OMG ombaknya gede banget!” Nyali gue makin kecut. Selain tidak bisa berenang, gue selalu takut dengan air (selalu mengalir tapi susah ditebak, kadang juga labil seperti awan).
Kami bertemu dengan tour guide yang menyediakan kapal dan alat-alat snorkeling lainnya. Setelah berkeluh kesah dengan kondisi ombak, Bli Ketut meyakinkan kami bahwa akan aman di tengah sana, ombaknya tidak akan terasa.
Long story short, kami akhirnya nyebur ke dalam laut. Kami dipandu oleh seorang tour guide lainnya yang membawa ring. Ring ini tempat berpegangan dan akan ditarik oleh Bli nya. Sederhananya, kami tidak perlu takut terombang-ambing, karena satu tangan memegang tali ring, dan satu lainnya mencoba menggapai ikan-ikan di bawah laut. MasyaAllah, gue tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Seperti dunia bawah laut yang biasa dilihat di kartun anak-anak, ikan warna-warni, nemo, banyak sekali. Karang, tumbuhan bawah laut warna warni, banyak sekali. Lucunya, setiap melihat ikan-ikan lewat gue memikirkan keponakan gue “Wah Hudzaifah akan senang sekali kalau bisa lihat ini :’) “
Tidak seperti pengalaman snorkeling di Sabang dan Maratua sebelumnya, yang mana gue selalu berada di dekat kapal dan melirik ke bawah laut sebentar saja, kali ini gue puas menenggelamkan diri dan melihat keindahan bawah laut. Ring ini sangat membantu dan tour guidenya memberikan pelayanan yang baik dan aman kepada kami.
Setelah puas 1,5 jam di dalam laut, kami kembali ke kapal. Menuju ke dermaga, dengan semangat 45 kami berteriak senang dan berbagi cerita.
Sambil menggigil mencari pakaian ganti si Mbok menawarkan kami, “mau dibuatkan apa, pop mie, teh atau kopi?” Paket snorkeling di sini sudah termasuk cemilan yang mereka sediakan. Setelah mengganti pakaian, kami duduk santai di tepi laut. Makan pop mie dan seruput kopi. Canda tawa penambah makna. Setelah 1,5 jam duduk santai menikmati angin laut (alias kedinginan woyy), kami pulang dengan bahagia.
Terima kasih ig @labuhan_amuk





