“Lo Kenapa?”

0

Pernah suatu siang menuju sore, di hari jumat, seorang teman tiba-tiba ngajakin naik gunung. Gue tau dia lagi dalam keadaan ‘kacau’. Perpaduan nilai kuliah yang hancur dan mengakibatkan wisudanya harus diundur hampir dua semeste ditambah keadaan asmara yang mengkhawatirkan.

“Naik Gunung Talang yuk, Bon!?” (Gak ada ragu dari raut wajahnya)

“Ngapain?” (Gue bingung dong)

“Ya naik aja,”

“Kapan?”

“Malam ini,”

“Siapa aja?”

“Berdua doang,”

“Gilakkkk lo!!!”

“Serius! Lo gausah bawa apa-apa. Baju lo gue yang bawain. Semua keperluan gue yang nyiapin. Lo tinggal ambil baju ke kos, masukin ke carrier gue. Lo melenggang aja ke atas.”

“Apaan sih!”

“Ayok lah bon. Lo percaya sama gue. Lo bakalan aman, kok.”

“Udah ah gak lucu.”

“Gue serius. Gue yang masak di atas. Lo tinggal makan, pokoknya gue yang urus semua. Lo gausah mikirin apa-apa,”

“Hahahahaha,” gue gak bisa lagi nahan ketawa setan gue. Setelah puas tertawa, akhirnya gue nanya.

“Lo kenapa?”

Lalu dia menarik napas panjang.

***

Pernah suatu malam dini hari. Jam setengah tiga. Gue watsap dia.

“Bg, ke Talang yuk? Berdua aja!”

***

Dan hal itu kini menjadi salah satu bahan bully an kami masing-masing.

And now, I wish I can send him the same message, but I don’t want to. Simply because i am not ready to answer the question ‘lo kenapa’ from him.

You might also like
Comments
Memuat...