Bertemu Tirta Prayudha

0

Hari itu, 18 Maret 2018 gue mengikuti sebuah acara #Carierperience yang lo bisa baca di sini.

Acara yang sangat berkesan buat gue pribadi. Hal ini karena gue ngerasa ketemu dengan orang-orang humble yang mungkin expert di bidangnya.

Sepulang dari acara tersebut, Uni gue nanya:

“Gimana Ka acaranya,”

“Asik banget Ni. Ya ampun pada ramah semua,” ucap gue dengan sukacita.

“Oh ya? Siapa aja emang?”

“Ada yang namanya Roy sama istrinya, trus Gadisya yang jadi speaker, sama satu lagi ga tau namanya. Ka diajak ngobrol sama yang satu itu. Orangnya asik banget, ngomong terus dia, cerewet sih kayaknya.“

“Siapa? Tirta?”

“Kayaknya iya deh itu namanya, Ka juga lupa. Tapi sebelum berangkat tadi sempet liat profilnya di twitter sih,”

“Ka ga tau Tirta Prayudha?”

“Engga Ni. Emang dia siapa?”

“OMG dia yang nulis sama Roy itu loh Ka. Uni punya bukunya.”

“Oh ya? Dia punya blog juga sih di profil twitternya tadi Ka liat,”

Di pikiran gue saat itu, buku yang ditulis itu adalah buku tentang saham-saham. Karna gue sempet buka twitter @BigApha_ID

Trus gue cerita sama Uni gue apa aja yang diceritain Tirta.

“Dari cara dia ngomong, kayaknya dia pinter banget deh Ni. Tadi Ka kayak tersihir gitu.”

“Ya iya lah. Ka, dia itu dulu kerja di EY trus sekarang di BP, S2 nya di Inggris ya pasti pinterlah.”

“Oiya, dari tadi dia nyebut-nyebut BP. Emang BP itu perusahaan apa?” gue nanya dengan polosnya.

Oke! Now you know pengetahuan gue tentang Tirta Prayudha itu seberapa. Jangan tanya tentang www.romeogadungan.com gue lebih ga tau lagi.

Harus gue akui, pengetahuan gue tentang perusahaan sangatlah minim. Semen Padang, EY, PwC, Delloite, dan Unilever adalah nama perusahaan yang keluar sebagai contoh dari dosen-dosen gue saat di bangku kuliah.

Selama Tirta ngobrol bareng gue dan temen-temen lainnya waktu itu, gue cuma bisa ngangguk-ngangguk, menyerap apa yang dia omongin, sambil menikmati kegantengannya yang ingusan. HAHAHA

I didn’t know who he was. Mikirnya waktu itu, kalau gue banyak tanya, keliatan banget gue ga tau dia siapa.

Gue inget dia bilang:

“Gue karna dari kampung, dulu juga ga tau kalau di luar sana banyak macam pekerjaan. Bagi keluarga gue di Aceh sana, pekerjaan itu cuma ada tiga; Dokter, PNS, sama polisi.

Waktu itu pengen rasanya bilang: “Ka Tirta orang Aceh? Aku pernah ke Aceh lo pas kuliah,”

Tapi hal itu ga jadi gue bilang karna menurut gue ada dua kemungkinan yang terjadi:

Satu, keliatan banget gue ga tau tentang dia dan dia mungkin bakal liat gue dengan menyeringitkan dahi, menyipitkan mata, hidung kembang kempis dan bilang: “Lo ga pernah baca blog gue apa?” dengan kesalnya.

Dua, mungkin ngobrolnya bakal lebih asik karna membicarakan tentang Aceh.

Tapi gue mikir mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya. And I shut my mouth up.

Tapi intinya, di acara itu banyak banget yang gue dapet.

Gue inget lagi, ada yang nanya sama Tirta:

“Kak, kok lo bisa sih kerja tapi nulis juga. Bisa ambil S2 juga. Itu gimana?”

Dia jawab:

“Menurut gue di hidup itu ada tiga; Work, Social life, and Sleep. Di antara tiga itu harus ada salah satu yang dikorbanin. Kalo lo memilih work and sleep, lo harus ngorbanin social life lo. Kalo lo milih social life and sleep, yaudah lo gausah kerja. Sedangkan gue memilih ngorbanin sleep gue. Gue pulang kerja masih sempetin nulis apa aja yang bisa gue tulis. Tapi itu emang waktu tidur gue berkurang dari orang lain. Tapi itu pilihan gue,”

Pas dia ngomong ini, gue lagi-lagi takjub. Entahlah, gue emang gampang banget terharu sama prinsip-prinsip sedarhana orang-orang sukses (versi gue)

Setalah acara itu selesai, gue janji sama diri sendiri bakal nulis moment-moment ini di blog. Dalam pikiran gue waktu itu, gue akan bikin tiga tulisan.

1.       Tentang acaranya (yang berhasil gue tulis esok harinya)

2.       Tentang keramahan  Tirta Prayudha dan Roy Saputra

3.       Ketololan gue dan ekspresi kakak-kakak gue pas gue ceritain dipanggil “Fikaa.. Eh fikaaa,” sama Tirta

Dan satu hal lagi yang gue ingin lakukan waktu itu ngebaca semua isi tulisan di blog www.romeogadungan.com

Tapi gue janji ga akan baca blog nya Tirta sampai tiga tulisan tadi selesai gue tulis. Hal ini agar tulisan gue ngalir tanpa harus tau fakta-fakta tentang Tirta. Dalam pikiran gue, gue ingin nulis kesan pertama gue ketemu dan ngobrol sama Tirta Prayudha yang ramah, pinter, ganteng, punya lesung pipi. Se simple itu.

Tulisan pertama, berhasil gue tulis esok harinya, Senin (19/3).

Tapi sayangnya, Selasa (20/3) gue harus bolak balik rumah sakit karna bokap hari itu masuk rumah sakit. Seminggu lamanya gue gabisa nulis. Gabisa buka laptop lama untuk perbaiki CV dan nulis apa yang udah tergambar dalam otak gue. Gue juga gabisa apply pekerjaan karna sejak ikut acara itu, gue mau edit CV dulu baru mau apply lagi.

Oh ya, gue sempet nulis dikit di notes hape sebenernya. Tapi dengan gaya tulisan yang berbeda karena moodnya juga lagi beda.

Senin (26/3), gue di chat sama Roy Saputra. Karena gue udah janji bakal ngirim CV ke dia. Tapi sudah seminggu berselang gue ga kunjung kirim CV. Mungkin itu sebabnya Roy whatsapp gue. Alhasil, gue kirim CV yang gue edit seadanya pagi itu, trus langsung kirim email sama Roy.

Dan untuk lo ketahui, gue juga ga tau Roy Saputra ini siapa. Maaf, iya maaf. Tapi itu kenyataannya.

Siangnya, gue penasaran Roy Saputra ini siapa. Gue googling. Ah, google pasti salah! Tapi ini bener. Oh shit! Gue pengen nangis abis itu. Senin gue terasa buruk sekali. Bukan karna Roy, bukan. Tapi karena ketidaktahuan gue tentang orang-orang yang gue temui saat itu.

Dari siang sampai sore bawaannya mellow. Pikiran gue melayang jauh pas gue salaman sama Roy. Ditawarin kerjaan sama Roy. Nama gue dipanggil Tirta. Gue ngobrol sama Tirta. Gue di chat personal sama Roy. How could I did’nt know them?

Gimana mungkin dua orang penulis begitu ramah sama gue. Gue yang bukan siapa-siapa, sedangkan mereka, lo bisa liat sendiri apa yang udah mereka kerjain. Gimana mungkin gue di chat sama salah seorang penulis yang gue sempat bersalaman dengan dia. Gue murung, wajah gue hampir keriput karna berpikir keras. #lebay

Malamnya, gue bertekad bakalan baca blognya Tirta. Gue intip judul demi judul. Banyak juga tulisannya. Pikiran gue waktu itu, gue ga mau baca yang sedih-sedih. (Oiya sebelumnya gue udah stalking instagramnya. Gue baru ngerti kenapa dia hari itu pakai kursi roda. Karena pas ketemu gue berpikir kalau kursi roda itu karena mungkin dia abis kecelakaan atau gimana).

Tulisan pertama yang gue baca berjudul Dua Puluh Sembilan. Gue memilih membaca ini karena gue yakin ini pasti postingan ulang tahun.

Ada kalimat: ”Postingan ulang tahun semacam menjadi milestone hidup yang gue bagi di sini.”

Oke, ini artinya dia nulis ini setiap tahun, piker gue. Gue senang membaca harapan-harapan orang tentang hidup. Karena itu berarti, gue gak sendirian yang punya banyak mimpi.

Gue membaca postingan itu. Jujur, gue ga bisa mendeskripsikan perasaan gue pas baca tulisan itu. Kalimat paling gue suka: “gue ingin bersujud lagi. Merasakan kening gue menyentuh lantai lagi. Sebagai bentuk kerendahan hati.”

Lalu gue melompat ke postingan Dua Puluh Delapan. Oke, di sini tersirat bahwa Tirta sudah memikirkan untuk menikah. Gue membatin.

Kemudian ke postingan Dua Puluh Tujuh, Dua Puluh Enam, dan Dua Puluh Lima. Dari postingan ulang tahun tersebut, Dua Puluh Lima adalah Postingan favorit gue. Seorang yang menulis jujur apa adanya. Seseorang yang berdoa di sepertiga malam. Gue membaca tulisan itu berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa lelaki berbaju putih yang gue temui tempo hari ini benar-benar menulisnya. Tanpa sadar, air mata mengalir di sudut mata gue.

*Bersambung..

Tulisan ini sengaja gue buat bersambung. Karena mood hari ini lagi mellow. Gue gamau semua tulisan ini jadinya memble. Karena banyak pelajaran dan hal lucu yang gue dapat di blog nya Tirta, dan ingin gue tulis dengan mood yang happy juga.

You might also like
Comments
Memuat...