Tuk Terakhir Kali (Bagian II)

Foto diambil dari: https://azinuddinikrh.wordpress.com/

Tidak ada yang merindukan dan dirindukan. Yang ada hanyalah kau terlalu berharap pada  waktu .” (Chintia Lestari, 7 November 2014)

 

Bagian satu di sini.

“Sreeeettt”… Dengan bodohnya aku berhenti di taman ini.  Aku tidak bisa mengendalikan kaki agar tak menginjak rem di titik ini. Dua tahun berlalu sejak malam terakhir aku menunggumu di taman ini. Umur kita sekarang 27 tahun. Kita? Aku baru sadar bahwa tidak pernah ada kita.

Aku turun dari mobil menggenggam setengah hati yang masih ku miliki. Menulusuri setiap keindahan taman ini. Menikmati setiap pancaran cahaya lampu yang telah setia menerangi taman ini.

Ya Tuhan, bagaimana mungkin dua tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki di tempat seindah ini.

Banyak perubahan yang terjadi selama kakiku tidak menyentuh jalan beton yang muat untuk dua orang  berjalan kaki ini. Taman ini makin indah saja. Daun-daun berisik manja sebab ia dibuai dinginnya angin malam.

Aku menutup mata, membentangkan kedua tangan lalu menghirup udara semesta. Tenang. Malam ini teramat tenang. Menularkan ketenangan ke dada ini.

Ya Tuhan, terimakasih untuk semua udara yang telah dan akan ku hirup.

Aku mengelilingi taman. Ah, bahkan aku saja tak lagi ingat detail setiap sudut taman ini. Hatiku terlalu kebas hingga tak mengizinkan otak ini untuk kembali mengingatnya. Aku harus berkeliling dua kali agar aku mengingat secara detail tempat ini. Tempat pertama dan terakhir kau memelukku erat. Ah, Kau memberikan ku ingatan yang kuat atas peristiwa sembilan tahun  yang lalu itu.

Sembilan tahun? Benar. Sudah sembilan tahun lamanya aku (masih) merindukanmu meski tak sepenuhnya menunggumu. Jari manisku kini tak lagi kosong. Sudah ada lingkaran yang mengikatnya sejak dua bulan yang lalu. Andai kau tahu, aku memutuskannya dengan terburu-buru. Andai kau tahu, betapa aku ingin waktu berhenti saja saat seseorang memasang lingkaran pengikat di jari manis ini. Tapi tentu kau tidak tahu dan tidak ingin tahu.

Sempurna. Aku sempurna berdiri di tengah salah satu taman terindah kota ini. Bagaimana mungkin aku lupa tempat ini. Bersama dengan cinta pertama dan pelukan pertama sekaligus pelukan terakhir. Ku rasa, ini juga cinta terakhir. Bullshit memang, tapi aku yang memiliki rasa. Jadi suka-suka aku mau tulis apa.

Aku kembali menutup mata. Kini aku merasakan pelukan sebab aku baru saja memeluk diri sendiri. Dingin memang hingga memeluk diri sendiri tak ampuh untuk menghangatkan badan. Sedang angin masih asik mempermainkan rambutku seperti layangan yang menggelantung di udara. Tidak ada yang aku pikirkan sebab aku mengizinkan dingin malam menguasai pikiran malam ini.

Tenangnya malam membuatku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat meski angin sedikit merusaknya. Ada langkah yang mendekat. Bukan langkah satu orang, sepertinya dua. Ah, sepertinya malam ini tidak akan setenang yang aku inginkan.

*Bersambung*

 

Cerpen ini ditulis tahun 2014. Sebelumnya di post di blog http://rsbono.blogspot.co.id/

Cerpenremaja
Comments (0)
Add Comment