Aku memarkir mobilku di tempat biasa. Di dekat pohon pinus di ujung jalan salah satu taman terindah di kota ini. Aku melangkah pasti menuju taman. Menikmati keindahan setip sudut taman ini. Sudah menjadi ritual wajib bagiku mampir ke sini setiap tanggal sebelas dalam dua tahun terakhir. Memakai baju berwarna hijau dan syal putih yang menghiasi tubuhku.
Persis seperti tujuh tahun yang lalu, saat kau memelukku erat di tengah salah satu taman terindah kota ini. Dan kini aku sempurna berdiri di tempat yang sama. Mengenang semuanya.
***
Kita berumur 14 tahun, berada di kelas yang sama, SMP kelas dua. Aku memandangi kendaraan yang asik berlalu lalang dari balik kaca jendela. Entah apa yang hendak
dilakukan para penghuni mobil hingga klakson mobil sumringah mengganggu telinga.
“Bantuin gue ngerjain nomor tiga dong,” kau mengagetkanku. Tidak ada yang berani mengajakku berbicara tujuh bulan terakhir sejak peristiwa itu. Peristiwa yang merenggut kehormatanku.
Kau memberanikan diri mengajakku berbicara. Mungkin kau tidak tau kisah suramku, karena kau baru pindah lima hari yang lalu ke sekolah ini. Aku takut-takut menatap wajahmu, lalu terpaku.
“Ayolah. Kok jadi bengong. Gue ga ngerti nih sama pelajaran ini. Kemaren nilai Fisika lo ini bagus,” kau membangunkanku dari terpakunya aku menatap wajahmu. Ragu-ragu aku
mencoba menjelaskan semampuku. Berusaha menjauhkan tubuh dari tubuhmu. Berusaha agar tangan kita tak bersentuhan sedikitpun. Aku takut jika kemudian kau mengetahui kisah suramku, kau akan merasa jijik karena pernah bersentuhan tangan denganku, seperti yang mereka lakukan.
Bel tanda berakhirnya istirahat berdering. Kau kembali ke tempat dudukmu, dan aku
mendengar bisikan-bisikan dari teman yang lain. Biasanya aku tak mempedulikan apa
kata mereka. Tapi kali ini, aku merasa gugup. Takut kau akan mulai merasa jijik denganku. Ya Tuhan, tanganku gugup, hatiku bergetar untuk pertama kalinya.
Kau berlari menuju arahku saat pulang sekolah. Aku menambah kecepatan kakiku berjalan. Namun kau tetap mendapatkanku.
“Hei, jalannya cepet amat” ucapmu sembari memperlancar irama napasmu. “Hmm kenalin, gue Fino. Gue baru pindah dari Samarinda enam hari yang lalu.”
“Aku sudah tau, kau kan sudah mengenalkan diri di depan kelas waktu itu” kutukku dalam hati.
“Hei, ayolah.” Kau menarik tanganku (karena aku membiarkan tangnnya terjulur sedari tadi) dan menjabatnya sebagai tanda perkenalan. Ya Tuhan, ini pertama kalinya ia menyentuh tanganku, dan sesuatu membuncah di hatiku.
Kita berdua berjalan ke arah yang sama. Tidak ada satu patah kata pun yang kita ucapkan. Hanya senandung irama yang kau lantunkan. Mungkin kau merasa canggung karena aku hanya senyum basa-basi saat kau menjabat tanganku tadi.
“Aku masuk rumah dulu,”kataku cuek tanpa memandangmu saat aku sampai di rumah. Aku tau, rumahmu sudah jauh terlawat dari tadi. Dan aku tidak mempedulikannya. Aku hanya memperhatikan kepergianmu dari balik jendela. Entah apa yang kau pikirkan tentangku, aku tidak tau. Sama dengan tidak taunya aku dengan apa yang sedang ada di hatiku.
Esok hari, kau berdiri di depan gang rumahmu. Aku lewat tanpa memedulikanmu . Kau
mengikutiku lalu berjalan di sampingku. Aku diam saja. Kau juga.
Saat pulang sekolah, kau melakukan hal yang sama. Berjalan di sampingku, lalu berbalik arah saat aku telah sampai rumah. Dan aku selalu memperhatikanmu dari balik jendela.
Lima belas hari berlalu sama dengan hari pertama saat kau pertama kali mengajakku
berbicara. Tak ada perubahan. Hingga hari itupun tiba. Hari ke tujuh belas di perjalanan pulang sekolah. Kemuak-an mu mampu menghentikan langkahku. Kau sempurna berdiri di depanku, menyuruhku menatap matamu lamat-lamat. Kau berbicara keras tapi aku tak mendengar jelas apa yang kau katakan. Jantungku seolah berhenti saat mataku menatap matamu. Ya Tuhan, terimakasih telah menciptakan matanya yang menenangkan.
Hari-hari berlalu. Aku mengerti apa yang kau mau. Aku tau kau juga tau kisah suramku. Dan aku berterimaksih kau tak pernah mempermasalahkannya.
Aku mulai terbiasa denganmu. Berbicara sediktit demi sedikit, lalu tak bisa berhenti
bicara jika sudah dengamu. Aku seperti hidup kembali. Punya jiwa baru yang
lebih indah karena kau adalah separuh jiwa itu.
Kau seperti nikotin bagiku, tak ada dirimu, aku sakau. Dan kau tak pernah mempermasalahkan itu. Kau selalu senang mendengarkan kalimat-kalimatku, kau tak pernah membiarkan air keluar dari mataku, dan senyummu seperti surga bagiku.
Kita melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Aku tau perjuanganmu agar bisa sekolah di tempat ini denganku. Meski kau bisa melanjutkan sekolah di tempat yang lebih elit dan bagus seperti yang disarankan orangtua mu. Aku menghargai itu dan aku selalu bersyukur karena kau ada di antara milyaran manusia.
Umur kita tujuh belas tahun, duduk di SMA kelas dua. Tiga tahun berlalu sejak kau mengajakku berbicara. Dan aku semakin mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku mulai gugup jika kau menghampiriku. Aku selalu bercermin sebelum bertemu denganmu. Aku memperbaiki baju, rok hingga rambut agar semua sempurna di depan matamu. Kau masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Setia mendengarkan ocehan-ocehan tak pentingku. Selalu mengingatkanku ini itu, tak pernah lelah sekalipun.
“ Aku mencintaimu, Fino. Sangat-sangat mencintaimu. Sejak pertama kali kau mengajakku berbicara, aku sudah memiliki rasa ini. Aku bahagia jika denganmu, aku seperti melihat surga jika manatap wajahmu, dan setiap kata yang kau ucapkan adalah nada piano yang mengalun di telingaku. Dan kini aku sudah mengerti dengan apa yang aku rasakan. Aku mencintaimu, Fino”. Kalimat itu berjalan mulus dari mulutku di suatu senja. Saat kita pulang dari bimbingan belajar. Karena sebentar lagi adalah Ujian Nasional.
Ya Tuhan, aku tidak tau kalimat-kalimat itu menjadi bumerang dalam hubungan kami. Aku tidak tau bahwa kalimat-kalimat itu adalah teka-teki untukku sendiri. Aku tidak mengerti kenapa aku harus mengucapkannya. Dan aku lebih tidak mengerti lagi kenapa dia hanya tersenyum dan menarik tanganku untuk melihat pelangi meski ia tahu aku tak menyukai pelangi.
Hari itu adalah pengumuman kelulusan di perguruan tinggi. Aku tau kau sangat menyukai hal-hal yang berbau teknik, hingga aku sangat mendukungmu memilih salah satu Universitas dengan jurusan teknik terbaik di negeri ini, meski itu artinya kita akan dipasahkan oleh pulau. Aku mendoakanmu dengan tulus agar kau bisa meraih apa yang kau inginkan. Dan tentu saja kau dengan mudah menembus perguruan tinggi itu karena kau lah yang terbaik di sekolah ini.
Dan hari yang tak pernah ditunggu itupun tiba. Besok kau akan berangkat menuju kota kembang. Dan malam itu, sebelas Juli, tujuh tahun yang lalu, di tempat aku berdiri saat ini, kau juga berdiri di depanku. Menatapku pasti, seraya memegang kedua bahuku.
“Hanya lima tahun Giska, lima tahun. Hiduplah di sini tanpa bayang-bayangku. Nikmati
setiap detik hidupmu dan ceritakan nanti saat aku kembali. Ceritakan apa saja yang kau lewati setiap detik hidupmu tanpa aku. Saat semuanya sudah sempurna, aku akan kembali ke sini. Tepat di tempat kita berdiri saat ini. Berjanjilah, demi aku, kau akan hidup bahagia. Berjanjilah, tidak akan ada air mata selama aku tidak berada di sampingmu. Berjanjilah.”
Kau memelukku erat. Memelukku seperti tak ingin melepaskannya. Ya Tuhan, ini pelukan pertama darinya.
***
Lima tahun berlalu. Aku sangat bahagia di hari itu, sebelas Juli. Lama sekali waktu berlalu bagiku. Aku menjalani hidup seperti yang kau minta. Tentu saja, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Dan akhirnya hari itupun tiba. Aku melangkah pasti menuju salah satu taman terindah di kota ini. Aku menunggumu dengan bahagia. Duduk di tengah taman dan senyum yang selalu tersaji di wajahku. Ya Tuhan, aku sangat bahagia. Hari yang Aku tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Tapi hanya hari yang tiba, tidak dengan momen yang aku tunggu. Kau tidak datang malam itu. Kau tidak datang, Fino! Aku dibangunkan seorang petugas keberisihan di pagi hari. Aku menunggumu semalaman di sini. Ya Tuhan, dia melanggar janjinya. Untuk pertama kali, dia ingkar janji.
Sejak saat itu, setiap tanggal sebelas aku selalu pergi ke taman ini. Mungkin aku
salah menghitung bulan, pikirku. Bukan bulan Juli, tapi Agustus. Bukan Agustus tapi September. Bukan September, tapi Oktober. Begitu seterusnya. Tak pernah aku lelah untuk berbaik sangka kepadamu. Hingga berita mengejutkan itu sampai di telingaku. 23 bulan sejak aku tetap datang ke taman ini setiap bulan. Berita yang sempat membuatku hampir menitikkan air mata. Tapi, karena aku sudah berjanji kepadamu, aku tidak jadi
menangis.
Dan malam ini adalah malam di bulan ke 24. Umur kita sekarang dua lima. Aku sempurna menunggumu selama tujuh tahun. Tujuh tahun. Mungkin berita itu benar, kau sekarang sudah bersamanya. Bersama seorang pesohor negeri ini. Kenapa tidak, karirmu melejit bagai roket. Kau terkenal dari pelosok hingga luar negeri.
Kau tidak paham, bahwa aku tahu dan aku mengerti. Tapi aku tidak peduli, aku akan tetap kembali ke tempat ini. Seperti janjimu, kau akan datang dan aku akan tetap menunggumu. Bahkan jika kenyataannya kau tak bisa lagi mencintaiku (atau bahkan tak pernah mencintaiku), aku akan tetap kembali ke tempat ini. Lagi dan lagi. Tempat di mana kau berjanji akan memelukku kembali. Suatu saat nanti.
‘Tuhan kembalikan segalanya tentang dia seperti sedia
kala. Izinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kali. Agar aku dapat
merasakan cinta ini, selamanya. Ketika malam telah tiba aku menyadari kau
takkan kembali” (Samsons – Di
Ujung Jalan)
Alunan lagu Samsons di radio mobil mengiringi kepergianku dari salah satu taman
terindah dikota ini.
Asrama Hijau
2 Mei 2014