Sekeping Ingatan di Sabang

Sebuah catatan singkat saat mengikuti field trip PJTLN DETaK Unsyiah

Kota paling barat Indonesia, Kota Sabang, menjadi tujuan  kami hari itu, Jumat (18/11). Usai menjalani kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) yang diadakan UKM Pers DETaK Universitas Syahkuala (Unsyiah) selama empat hari sebelumnya, saatnya kami —peserta dan panitia— melepas penat dengan menjelajah di Kota Sabang, Pulau Weh.

Rasa tak sabar menyelimuti perasaan saya pagi itu. Jika mendengar kata sabang, tentu yang muncul di pikiran adalah lagu wajib nasional saat di Sekolah Dasar dulu, ‘Dari Sabang Sampai Merauke’ ciptaan R. Suharjo. Dan hari ini, saya akan menginjakkan kaki di  ‘awal mula’ Indonesia tersebut.

Kami berangkat sekitar pukul 09.15 WIB  dari Asrama Kompas Unsyiah menuju Pelabuhan Ulee Lheue dengan menggunakan labi-labi. Labi-labi merupakan nama angkutan umum (angkot) yang ada di Banda Aceh. Labi-labi  adalah mobil berjenis Hijet 1000 di mana terdapat dua bangku yang saling berhadapan. Biasanya, dalam satu labi-labi bisa muat 14 orang. Namun pagi itu, labi-labi kami siksa dengan muatan 18 orang kepala, ditambah dengan barang-barang kami. Satu orang memiliki satu koper dan
satu ransel. Jadilah labi-labi pagi itu seperti mengangkut para pengungsi.

Jalanan berdebu kala itu. Memaksa kami harus melindungi mata, hidung, dan mulut seadanya dengan tangan ataupun jilbab yang kami pakai. Di Banda Aceh, sedang terjadi pembangunan jembatan maupunperbaikan jalan. “Banda masih proses berbenah pasca bencana besar 12 tahun silam,” ucap saya dalam hati.

Tak terasa, tiga puluh menit pejalanan telah kami lalui. Terik matahari pagi itu membuat peluh berpacu dengan gairah tak sabar membelah laut. Menarik koper di tangan kanan, ransel di punggung, dan kamera di dada menjadi style saya hari itu. Menggunakan baju berwarna hijau, celana hitam, dan sandal swallow berwarna merah, saya mengayunkan
kaki untuk menuju kapal dari tempat turun labi-labi. Total rombongan kami ada 35 orang saat itu.

Sampai di lantai tiga kapal, orang-orang sudah membentangkan tikar di tempat yang dilindungi atap. Entah bersama keluarga atau dengan kolega. Tikar tersebut mereka sewa dengan harga 20ribu selama pelayaran. Sedangkan kami membentangkan spanduk yang kami bawa untuk bisa duduk bersama sekaligus meletakkan barang-barang kami.

Pukul 10.00 WIB kapal bertolak dari pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan. Sekitar 10 menit perjalanan, tampak batas air laut yang berubah warna. Tampak jelas garis pembatas antara air berwarna keruh dengan air biru cerah seperti warna langit. “Sungguh, kebesaran Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?” saya berseru dalam hati.

Saya menutup mata. Berpegangan pada besi tepian kapal. Menghirup nafas panjang. Angin ‘mengoyak-ngoyak’ jilbab bermotif bunga-bunga saya. Saya membuka mata perlahan. Laut biru nyata terpampang. Kapal dengan gagah membelah lautan. Terik matahari yang panas tak saya hiraukan. Hati saya bergemuruh tak henti mengucap syukur. Untuk langit biru yang seolah merestui pelayaran ini.

Dua jam berlayar, kapal menepi ke dermaga.  Kami sampai di Pelabuhan Balohan. Kami sudah ditunggu oleh mobil truck Kodim Kota Sabang. Satu truck kami padatkan dengan 35 orang ditambah dengan barang-barang kami yang “segudang”.

Mulailah perjalanan. Jalannya yang masih sepi dan asri. Jalan aspal yang masih bagus seolah tanda tak banyak kendaraan lalu lalang di sini. Berbeda dengan di Banda Aceh—jalanan yang dipenuhi debu sepanjang jalan— di Kota Sabang, udaranya begitu sejuk dan bersih. Angin melambai-lambai sepanjang jalan berliku bagai ucapan selamat datang. Kami tiba di penginapan Wisma Zahira di dekat Pantai Kasih sekitar 15 menit kemudian. Para lelaki kemudian menunaikan ibadah salat jumat.

Pukul 14.30 WIB kami bertolak ke Tugu Kilometer 0 Indonesia yang memakan waktu hampir satu jam perjalanan. Jalan menuju sana berliku dan tikungan tajam, kadang bus yang kami tumpangi harus berhenti dan terlebih dahulu mengklakson untuk memastikan tidak ada kendaraan dari arah berlawanan.

Tugu tersebut bisa dikatakan terletak di dalam ladang. Namun jalannya sudah beraspal. Sesampianya di sana, saya langsung ‘memanjat’ tembok yang mengarah ke laut. Hamparan laut luas bagai busur panah yang turut memanjakan mata saya di dekat tugu. Kemudian saya memerhatikan teman lainnya sibuk mengabadikan diri dengan kamera.

Sayangnya, saya tak sempat mengamati bentuk tugu kilometer nol tersebut. Saat itu, tugu degan cat biru itu sedang dalam proses renovasi.  Di depan tugu terdapat tulisan Kilometer 0 Indonesia yang cukup mencolok dengan cat berwarna oren. Tak lupa kami berfoto bersama di depan tulisan tersebut, sebagai bukti bahwa kami pernah menginjakkan kaki di titik 0 kilometer Indonesia. Tentang apakah benar Barat Indonesia dimulai dari titik tersebut tak kami pikirkan.

Di kawasan tugu tersebut juga terdapat pasar kecil-kecilan yang menjual berbagai jenis souvenier. Mulai dari gelang, baju, maupun gantungan kunci. Benar kata orang, di mana ada kehidupan di sana ada pasar.

Jarum jam tak lelah berputar. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Iboih yang jaraknya tak jauh dari Tugu Kilometer 0. Pantai Iboih yang begitu cantik dan air yang jernih. Sayang jika ke Iboih tapi tidak menikmati keindahan surga bawah lautnya. Kami pun merogoh kocek 45ribu per kepala bagi yang ingin melakukan snorkling dan menjamah kerajaan bawah laut di Iboih. Sejujurnya, rasa cemas menghampiri saya senja itu. Selain takut akan kedalaman, saya juga tidak pandai berenang. “Tenang saja, kan pakai pelampung. Nanti barengan sama yang lain juga, biar diajarin caranya,” ucap Chalid, salah seorang teman panitia dari UKM Pers DETaK.

Kami kemudian naik perahu boat untuk menuju Pulau Rubiah yang berjarak sekitar 350 meter dari Pantai Iboih. Satu boat berisi maksimal 12 orang. Di atas perahu, saya menceburkan telapak tangan ke air selama perjalanan. Sambil berteriak-teriak manja, seolah tak percaya dengan apa yang saya lalui hari itu. “Ikut PJTLN pasti tujuan utamanya ke Sabang dan melakukan ini, kan?” ujar Chalid lagi di atas perahu. Saya meng-amin-kan kalimat tersebut.

Sampai di Pulau Rubiah, kami menceburkan diri ke laut biru. Air jernih dan (sudah pasti) asin, pantas wisatawan menjadikan Pulau Rubiah sebagai tempat wajib yang harus dikunjungi bila ke Sabang. Ah, akhirnya saya bisa melihat sepotong surga di bawah laut. Ikan-ikan cantik berwarna-warni menari-nari memamerkan umbul-umbulnya. Kurang lebih satu jam snorkling, matahari pun tenggelam di ufuk barat sana. Menyisakan benturan cahaya oren di tengah laut, pertanda kami harus ‘puas’ dengan permainan singkat kami. Sebelum saya ke Aceh, teman saya sempat berujar “Jangan pulang sebelum snorkling di Sabang.” Artinya saya sudah boleh pulang. Kami pun kembali ke Wisma Zahira.

Bagi sebagian orang—termasuk saya sebelumnya— mendengar Aceh mungkin yang mereka pikirkan hanyalah daerah konflik, tidak aman, peperangan, menakutkan. Tapi itu belasan tahun silam. Saat senjata masih berkeliaran tanpa penjelasan. Sedang kini? Aceh sudah menjelma menjadi negeri yang aman. Sekeping surga bertahta di ujung utara Pulau Sumatera ini.

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Api unggun telah menyala di wisma. Kami, peserta PJTLN dan panitia duduk mengelilingi  api unggun. Tak lupa jagung bakar melengkapi malam terakhir kebersamaan kami yang singkat. Merasakan kehangatan, di bawah langit cerah tanpa awan. Cahaya bulan yang mengintip dari balik pohon juga menerangi malam kami kala itu. Malam kami habiskan dengan menyaksikan pentas seni dari masing-masing daerah. Ada yang dari Jogja, Bandung, Medan, Padang, Jambi, dan Pekanbaru. Api unggun dan gelak tawa begitu menghangatkan suasana malam itu. Tapi hati saya seakan beku. Karena saya tahu, kehangatan api unggun adalah pesta penyambut perpisahan.

Comments (0)
Add Comment