Rinjani

 

Ilustrasi gambar: space.com

Lelaki itu masih tertidur lemah di kasur. Selang infus masih terpasang di tangannya. Sudah pukul 2 pagi, matanya masih berlinang. Sedari tadi ia menahan agar tak tersedu-sedan, biar wanita yang terlelap sambil memeluknya tak terbangun.

Ia sedang menangisi wanita di sampingnya. Betapa ia benci sebab du lu begitu lama membiarkan gadis bermata sendu itu menunggu. Terlebih, ia seolah tak tahu.

“Ranu sayang. Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Kembali bertemu denganmu, menjadi imam salatku, menghabiskan malam bersamamu, menemui pagi dengan kau di sampingku adalah anugerah yang tak bisa ku nilai harganya. Tetaplah hidup, sayang. Karna pelukmu adalah tempat teraman dan ternyaman yang kumiliki.” bisik perempuan yang memeluk suaminya yang sedang tertidur lemah di kasur itu.

Ia kemudian mengecup lembut pipi suaminya. Ia selalu tersenyum saat melihat kepada lelaki yang menikahinya dua setengah tahun silam itu. Tak pernah sekalipun ia bermuka masam, atau berkata keras kepada suaminya, meski lelaki itu sudah 8 bulan lamanya memakai infus-infus itu.

Dan itulah yang sedang diratapi Ranu. Ia tak berdaya namun wanita  di sampingnya tak pernah berubah sejak dulu. Tatapan mata sendunya masih saja sama sejak mereka kembali bertemu. Penuh kasih sayang, kerinduan dan ketulusan.

Ia masih ingat saat kembali bertemu dua setengah  tahun silam. Secara tidak sengaja  di
pameran foto. Saat itu Ranu sedang bersama wanitanya. Dan Kirana seperti biasa lebih memilih melakukan yang ia ingin sendiri. Pameran foto itu ramai. Kirana membatu di depan foto milky way di sudut ruangan itu entah sudah 20 menit lamanya. Ia memejamkan matanya, lalu kembali membuka. Lalu memejam lagi intuk waktu yang lama. Seolah ia sedang menghayati foto tersebut.

Ranu dan wanitanya sampai di sudut itu juga untuk melihat foto tersebut. “Wah sayang, bagus banget ya fotonya,” ujar Ranu pada wanitanya.

“Ini foto apa sayang? Bintik-bintik putih gitu aja,”

“Ini namanya milky way yang kalau malam…”

Kirana memejamkan matanya lebih keras. Bagaimana mungkin suara lelaki yang sedang ada dalam khayalannya begitu nyata terdengar. Suara itu kian terdengar sempurna.

“Jarang-jarang loh orang dapat liat dan ambil foto milky way kayak gini. Ada teknik-tekniknya juga,”

Kirana membuka mata dan menoleh ke samping kirinya. Dan benar, ia tak  salah
dengar. Sedetik dua detik jantungnya seolah berhenti.

“Loh, Kirana?”

“Ranuuuu,” Kirana berteriak histeris.

Mereka berdua kemudian spontan berpelukan. Cukup lama dan penuh kerinduan.

“Kok ada di Bandung?” tanya Ranu dengan raut wajah bersemangat dan penuh penasaran.

“Lagi jalan-jalan aja. Lo ngapain?

“Oh nemenin si Farah. Oiya kenalin ini Farah. Sendiri aja? Lo sekarang tinggal dimana? Wah udah lama banget ya ga ketemu. Gimana kabarnya? Baik? Kerja dimana ya ampunnn Kirana kok bisa ketemu di sini kita ya,”

“Itu semua pertanyaan harus dijawab?”

“Sayang udah jam 2 nanti kita telat lo,” ujar Farah seolah tak mengizinkan dua insan itu bercengkrama lebih lama.

“Oh iya. Yaudah mana handphone lo?

“Gue?”

“Iya sini cepat.”

Ranu merebut paksa hp di tangan Kirana.

“Oke nomor gue udah gue simpen di hp lo dan nomor lo juga udah gue simpen di hape gue. Yaampunnn Kirana gue kangen berat!”

“Ih apaan sih lo tuh marah tu cewe lo,”

“Ih apaan kan kita cuma temen. Udah lama banget juga gak ketemu.”

Iya  Ranu. Kita emang cuma temen,” batinnya.

“Yaudah gue cabut dulu. Ntar kapan-kapan gue telpon ya,”

“Iya iya,”

Dalam sekejap, Ranu kembali memeluk Kirana. Kali ini lebih erat hingga membuat Kirana tak bisa bernafas.

“Woi bisa mati sesak nafas gue,” ujarnya kesal setelah susah payah melepaskan pelukan Ranu.

“Yee biarin orang gue kangen banget. Yaudah gue cabut ya,”

“Oke,”

Ranu pun melangkah pergi. Dan Kirana masih menatap kepergiannya.

“Nanti gue telpononn,” bisiknya dari jauh sambil mengangkat tangannya di telinga.

Kirana pun tersenyum melihat tingkah lelaki tersebut.

Ia merasa semua itu mimpi. Kirana seolah tersadar dari lamunannya. Air mata kemudian mengalir dari pelupuk matanya. Ia sudah tersedu saja. “Ya Tuhan kenapa semua ini terasa begitu nyata?” batinnya.

Sepersekian detik kemudian, seseorang menggenggam tangannya. Ia menoleh kepada
lelaki tersebut. “Ranu? Ya Tuhan kok mimpinya nyata kali?” Ia meraba pipi lelaki tersebut dan air matanya terus menghujan.

Lelaki itu kembali memeluknya. “Bodoh. Kalau rindu bilang saja. Gak usah
cuek,” ujar lelaki tersebut. Dan Kirana sadar, ini bukan khayalan.

……bersambung

cerbungCerpenremajaRinjaniromance
Comments (0)
Add Comment