Resensi Novel: Konspirasi Alam Semesta

Dan kebahagiaan, meski tak lama menetap, tetaplah kebahagiaan. (hlm. 196)

Dan kebahagiaan, meski tak lama menetap, tetaplah kebahagiaan. (hlm. 196)

Baper, adalah satu kata yang dapat menyimpulkan perasaan saya seteleh membaca buku kedua dari pria asal Bandung yang lahir 3 Maret itu, Fiersa Besari. Mengisahkan tentang seorang lelaki kumal bernama Juang Astrajingga yang jagatnya ‘sejenak berhenti’ kala matanya untuk pertama kali bertemu dengan mata Ana Tidae— gadis dengan rambut panjang berombak yang tak sengaja bertabrakan dengannya senja itu.

Juang adalah seorang lelaki yang lahir 26 tahun silam di sudut timur Jakarta. Menyandang gelar sarjana Teknik Informatika, hidup ‘normal’ versi ayahnya—menjadi pagawai sangatlah membosankan. Lelaki dengan mata tajam itu terpikat pada sastra pada akhir-akhir masa kuliah, dan berujung memilih untuk berprofesi seorang penulis—baik reportase maupun blog.

Konspirasi alam semesta kembali mempertemukan Juang dengan Ana. Seperti kisah sinetron,  Juang— yang juga berprofesi sebagai wartawan lepas, mendapat tugas mewawancarai anak dari almarhum sinden Shinta Aksara. Siapa lagi kalau bukan Ana Tidae. Kisah mereka berlanjut. Dari mengobrol lewat pesan di dunia maya, hingga naik bianglala berdua.

Juang, yang sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama amatlah sadar bahwa ia sedang menjadi orang ketiga dalam hubungan Ana dan Deri Ismail. Namun bagi Juang, seorang lelaki harus berpijak. Kau laki-laki! Berpijaklah!

Maka ia butuh kepastian, keputusan Ana— memilih Juang atau Deri. Seminggu berselang tanpa berbagi kabar— sejak Juang meminta keputusan Ana, malam itu hujan menuntun Ana menuju Juang.

Sebulan kemudian, malam itu di bawah hamparan jutaan bintang di angkasa, di pos bekas hutan terbakar Gunung Slamet, untuk pertama kalinya bibir mereka saling bertemu dan melebur. Dan esoknya, saat matahari masih malu-malu menyinari bumi, Puncak Gunung Slamet menjadi saksi bisu dua cucu adam resmi menjalin kasih.

Hubungan mereka bukan tanpa rintangan dan tantangan. Juang— lelaki bengal itu bertugas ke Timur Indonesia hingga hilang kontak berbulan-bulan, dan Ana yang diberi kanker otak oleh Penciptanya. Semua itu berhasil mereka lewati hingga Ana Tidae resmi menjadi Ana Astrajingga pada November 2013. Balutan kasih sayang adalah gambaran dari keadaan rumah tangga mereka.

Tapi, hatiku memang akan senantiasa terbagi untuk tiga perempuan. Ibu, yang keindahannya terukir abadi; kau, calon ibu dari anak-anakku kelak; dan Ibu Pertiwi, yang memberikan kebaikannya lagi dan lagi. Menelantarkan salah satu dari kalian hanya akan menyakitiku. (hlm. 200).

Suatu hari di Januari 2014, saat Sinabung usai meradang, Juang memilih ikut serta jadi relawan di utara Pulau Sumatera itu. Entah karena ego pribadi, atau memang kepedulian sosial yang tinggi, hingga Juang memberanikan diri pamit kepada sang istri, untuk jadi
bagian dari sejarah pada Ibu Pertiwi.

Fiersa Besari yang biasa disapa “Bung” ini sukses mengaduk-ngaduk perasaan pembaca lewat kalimat-kalimat Maha Puitis yang digunakannya. Ia pandai betul mendeskripsikan setiap ‘jengkal’ kejadian yang ia tulis. Konspirasi Alam Semesta menyiratkan betapa sang penulis memiliki pengetahuan yang cukup luas dan pernah berkelana ke sudut-sudut Indonesia. Hal ini terlihat dari cerita yang disampaikan pada setiap bab seolah nyata, seperti misalnya saat tokoh Juang mendatangi kawasan Timur Indonesia dan bertemu dengan organisasi Papua Merdeka.

Saya acap kali murka ketika Bung kembali berhasil membuat saya berteriak-teriak dalam hati, meringis, tertawa, hingga kesal tiada tara. Baik karena alur cerita, maupun karena kalimat yang digunakannya begitu sederhana namun tepat pada tempatnya. Bung lihai dalam membawa imajinasi pembaca dari satu kejadian ke kejadian berikutnya. Akhir
ceritanya pun membuat saya tidak bisa tidur dan harus mengorek-ngorek latar belakang Bung dari dunia maya.

Selain itu, Konspirasi Alam Semesta merupakan novel fiksi dalam bentuk album dan buku. Bung juga menulis lirik dan syair di setiap akhir bab buku ini. Akan lebih khidmat jika novel ini dibaca diiringi dengan mendengarkan lagu-lagu Bung dalam album Konpirasi Alam Semesta. Sebagai orang yang teramat hanyut dalam cerita, novel ini seolah tak
punya cela di mata saya. Jika Anda punyuka syair, perjalanan, gunung, dan senja
tak membaca novel ini adalah sebuah ‘dosa’. Highly recommended!

fiersabesariKonspirasi alam semestakonspirasialamsemestaResensi
Comments (0)
Add Comment