Karena bagiku, sebaik-baiknya tersesat adalah tersesat di kedai kopi.
Tempat perbincangan luruh dalam hangatnya pahit yang menjadi candu.
Tempat gelak tawa pecah dengan teman-teman sebaya. Melupa pada dunia tempat sandiwara.
Kau, aku, dan mereka menjadi sama saat pasrah pada nikmatnya tegukan pertama.
Dan kedai kopi menjadi saksi bagaimana tak berartinya percakapan-percakapan kita.
Hingga satu persatu di antara kita menunaikan kewajiban untuk ‘pergi’ melawan dunia.
Dan ‘kita’ tinggallah nama. Tanpa perpisahan di kedai kopi tempat biasa menunaikan seremonial untuk segala rupa agenda. Karena sesungguhnya kita tak benar-benar nyata.
#RIPKanc!
Notes: Foto ini diupload di instagram saat rindu dengan teman se geng. Alhasil, malamnya kami lagsung berkumpul di kedai kopi. Hanya berlima. Percakapan kami luruh tanpa jeda. Gelak tawa pecah tanpa peduli orang-orang di kedai kopi yang sama. Malam itu, kami berbincang tanpa peduli beres-beres yang dilakukan barista, tanda kedai kopi sudah mau tutup. Mengabadikan foto pun kami lupa. Tanpa sadar, itu adalah perbincangan kedai kopi kami terakhir, karena setelahnya kami berpencar melanjutkan hidup masing-masing.