Awal Mula Mengenal Bapak Pers Nasional

Foto diambil dari http://marryingbooks.blogspot.co.id

Ini tentang Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional, yang baru saya kenal

Saya mengenalnya setelah menamatkan 3 buku yang jika ditotalkan jumlah halamannya kurang lebih 1.800.

Tetralogi Buru, roman yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, mengenalkan saya dengan sosok Minke, seorang anak bupati yang bersekolah di HBS.

Di buku pertama dengan judul Bumi Manusia, Minke menceritakan ttg kesehariannya. Ia sekolah dimana, bagaimana ia begitu dipandang karena bersekolah di HBS, yang hanya pribumi dari keluarga pejabat yang bisa menempuhnya. Bagaimana pribumi jahiliah takut pada para kompeni.

Di HBS, ia tidak terlalu mencolok memang, bahkan juga sering diolok-olok karna namanya Minke, yg mungkin memiliki arti Mongkey.

Suatu hari, ia dibawa dan dikenalkan oleh Robert Suurhoft, seorang teman Indonya ke rumah Tuan  Mallema, dan dikenalkan dengan Nyai Ontosoroh dan anak gadisnya, Annelis Willmena. Entahlah, saya lupa namanya. Entah millema entah willmenaaa..

Saat itu, Robert Suurhoft berniat menyombongkan diri kepada Minke, bahwa dia orang Indo dan memiliki kenalan keluarga Indo yang di dalamnya terdapat gadis cantik mempesona yang semu  lelaki akan jatuh cinta saat melihatnya. Benar saja, Minke langsung jatuh hati padanya.

Gayung pun bersambut. Annelis, gadis yang tidak memiliki teman itu pun juga jatuh hati pada Minke. Nyai Ontosoroh langsung menangkap sinyal-sinyal tersebut dan mempermudah semuanya. Minke diperkenankan untuk kembali ke rumah tersebut. Dulu, tabu bagi pribumi menginjakkan kaki di rumah orang Indo apalagi bersahabat dengannya.

Annelis yang begitu lemah sangat membutuhkan Minke pada akhirnya. Banyaknya persoalan yang terjadi dan takut akan kehilangan, membuat Minke terikat dengan Annelis. Ia tinggal di rumah Ann, bahkan pada akhirnya sekamar dengannya.

Minke yang hobi menulis tak lupa menuliskan setiap kejadian-kejadian yang dilaluinya. Ia pun menulis tentang kehidupam keluarga Nyai Ontosoroh dengan nama pena yang saya lupa apa. Nyai Ontosoroh yang notabene Nyai Belanda yang dipandang sebelah mata oleh orang, merupakan seorang otodidak yang handal. Mulai dari belajar bahasa Belanda, hingga mengelola perusahaan. Ia begitu tegas, dan kehebatannya sangat mempesona.

Semua itu ia dapatkan karena Tuan Mallema yang memberikan buku-buku bacaan kepadanya. Tuannya, memberikan pendidikan secara tidak langsung kepadanya.

Jika lazimnya, seorang gundik hanya untuk pemuas nafsu para tuan-tuan Belanda, tidak dengan Nyai Ontosoroh. Ia diberikan kebebasan untuk belajar otodidak, mulai dari buku-buku dan bacaan-bacaan lainnya, hingga bagaimana mengurus perusahaan. Semua itu ia
dapatkan dari tuannya. Ia terlatih.

Minke pun menuliskan tentang kisah Nyai, bagaimana ia bisa digundik yang menyebabkan kebencian mendalam pada ayahnya. Tulisan itupun dimuat di Koran Belanda. Maka meskipun dengan nama pena, Nyai Ontosoroh pun tahu, bahwa penulisnya adalah Minke, Tuan Tolenar. Dari situ Nyai semakin menyukai Minke. Singkat cerita, di tengah konflik-konflik yang tengah  dihadapi Minke, akhirnya ia menikah dengan Annelis beberapa hari setelah ia lulus dari HBS.

Sebelumnya, ia sempat dikeluarkan dari HBS buntut dari persoalan yang begitu rumit dan menegangkan di persidangan. Ia dinilai tidak lagi sama dengan siswa HBS lain karena telah sekamar dengan wanita yang bukan istrinya. Perkara tak patut itu dibicarakan di depan umum dalam persidangan yang kisahnya amatlah rumit. Dengan beberapa pertimbangan, dan akhirnya diketahui kasus tersebut merupakan politik-politik tertentu. Minke kembali bersekolah dan kemudain menamatkannya.

Singkat cerita, di tengah konflik-konflik yang tengah  dihadapi Minke, akhirnya ia menikah dengan Annelis beberapa hari setelah ia lulus dari HBS.

Namun dengan pernikahan tidak menghilangkan semua masalah yang ada. Kematian Mallema yang aneh kemudian mengubah alur cerita.

Harta peninggalan Mallema harus dibagi dengan anak-anaknya. Dua anaknya dengan Nyai Ontosoroh dan anaknya yang lain yang ada di Belanda.

Sedang Nyai yang menyelamatkan dan memelihara perusahaan tidak mendapat apa-apa. Karena hanya seorang gundik, tak memiliki hak apa-apa.

Perkara harta warisan itu pun membuat Annelis, istri Minke yang sah secara agama, harus dibawa ke Belanda untuk diasuh wali sah nya, selama satu tahun. Untuk dijaga
oleh walinya, saudara se ayah yang ia bahkan tak kenal. Begitulah pengadilan saat
itu. Tidak memihak pribumi. Pengadilan bukan untuk mencari keadilan, tapi untuk memenangkan orang Eropa.

Maka pergilah Ann ke Belanda, meninggalkan suami dan ibunya. Pernikahan yg baru seumur jagung.

Itulah sedikit yang saya ingat dan bisa saya tuliskan tentang  awal mula saya mengenal Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Saya belum mengenal sebenarnya karena di Bumi Manusia saya baru
mengenal Minke.

Tweet-tweet ini bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk saya, mencoba
mengingat dan menulis sedikit yang baru saya baca. Dan saya amat mengaguminya.

Bumi Manusia, sebuah buku yang kala
itu dipinjamkan oleh seorang senior yang juga lumayan saya kagumi karena kehebatan
dan keaktifannya dalam menulis. Waktu itu dipinjamkan saat bulan puasa dan dia bilang habis lebaran segera kembalikan. Dan hari ini (11/11/2015), 4 bulan setelah lebaran buku itu masih di tangan saya. 😀

Awalnya, saya agak bosan
membacanya. Karena kebiasaan saya yang membaca novel-novel fiksi yang alurnya bisa
berubah seenak kepala penulis.

Membaca Bumi Manusia lumayan
menyakitkan kepala dan mengerenyutkan dahi. Bahasanya yang kaku, dan seakan
membaca buku sejarah saat SD/SMP. Dengan amat sabar saya tetap
membaca buku tersbut dengan keyakinan pasti buku ini bermakna sehingga senior itu
meminjamkannya. Sebab, saat saya minta dipinjamkan buku, saya tidak menyebutkan
judul atau jenis buku apa yg ingin saya pinjam. Tetiba sudah dibawakan Bumi
Manusia.

Setelah sepertiga buku saya baca dengan susah payah dan waktu yang teramat lama, barulah saya amat tertarik dengan buku tersebut. Ada hal yang membuat saya ingin
segera menamatkannya. Penasaran pun menghantui saya. Sehingga dalam beberapa hari dengan sungguh-sungguh saya menamatkannya.

Review buku Bumi Manusia Versi Saya 🙂

Ini semua adalah tweet saya di twitter yang kembali di copy paste ke blog ini. Bersyukur pernah menulisnya. Agak kecewa karena hanya menulis sdikit tentang Bumu Manusia. Karena sekarang saya bahkan tidak begitu ingat isinya. Apalagi tentang Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah yang tidak ada saya tulis sehingga tidak meninggalkan bekas di kepala saya. Hmm

bumi manusiaPramoedya ananta toertetralogi pulau buru
Comments (0)
Add Comment